3 Langkah Menulis Buku Anak; Tips Ringkas dan Efisien

3 Langkah Menulis Buku Anak
3 Langkah Menulis Buku Anak. Foto: dok. Dion Yulianto

Aloha, DIVAmate. Masih pada semangat kan kejar mimpinya? Tapi kejar mimpinya jangan sambil mimpi juga ya, kudu pake aksi. Untuk #SeninMenulis hari ini, Mimin kasih oleh-oleh materi dari Workshop ‘Yuk Jadi Penulis Buku Anak’ tanggal 29 Januari 2017.

Tapi, Min, aku kan ingin jadi penulis buku, bukan jadi penulis buku anak? | Hey, jangan salah. Penulis buku anak penulis juga loh.

FAKTANYA buku-buku anak adalah buku yang penjualannya paling laris di seluruh Indonesia jadi please deh ya jangan pernah remehkan penulis buku anak! Sebagai tambahan, kita bisa belajar dari mana saja,dari siapa saja. Seorang penulis yang baik mempelajari apa saja, dia memerhatikan semuanya. Teknik menulis buku anak pun bisa kita terapkan dalam menulis buku umum atau novel, karena semua ilmu itu penting, termasuk ilmu menulis. Mari kita cari tahu apa saja sih 3 langkah menulis buku anak? Secara umum, langkah-langkah menulis buku anak terdiri atas prewriting, writing process, dan postwriting:

(1) Prewriting, adalah tahapan awal sebelum mulai menulis

Sebelum menulis, kita harus tahu apa yang hendak kita tulis. Dan, untuk tahu apa yang hendak ditulis, kita harus cari ide apa yang hendak ditulis. Intinya, apa gagasan atau ide yang ingin ditulis nanti, gitu. Kemudian, ide ini nyarinya di mana? Ide ada di mana-mana. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa diolah menjadi ide untuk menulis. Misalnya saja, kamu melihat seekor ayam dengan corak bulu yang menarik sekali. Dari situ, muncul ide untuk membuat buku mewarnai seri hewan. Mungkin juga, kamu suka dengerin dongeng kancil tapi bosan karena dongengnya gitu-gitu aja. Nah lalu ada ide buat buku dongeng kancil masa kini.

Menemukan ide yang unik dan kreatif sebagai bahan tulisan itu kadang susah loh, karena itulah ide itu mahal harganya. “Belajar mencari ide tulisan itu lebih mahal daripada belajar menyusun kalimat,” kata Kak Mentor kita. Dari mana datangnya ide? Dari mata lalu ke pikiran. Ide bagus ada di mana saja asal kita mau memperhatikan, bukan sekadar melihat. Selain melihat dan memperhatikan, ide untuk menulis buku juga bisa didapat dari mendengarkan, menyimak, membaca apa saja, juga melakukan. Terutama membaca, ini penting banget buat cari ide. SGA pernah berkata, “Penulis yg tidak mau membaca sebaiknya pensiun saja jadi penulis.”

Setelah ide didapatkan, kemudian gimana? Kayak seperti calon jodoh, begitu didapat ya harus sesegera mungkin “diikat” #eaakkkk. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Ikatlah ilmu dgn menuliskannya.” Hal yang sama juga berlaku pada ide. Ide harus diikat dengan cara menuliskannya. Di mana dan kapan cara terbaik menuliskan ide? Sesegera mungkin setelah ide itu muncul di benak kita, catatlah. Tulis di mana saja. Ingat, ide bagus itu mahal, segera catat sebelum kelupaan. Kalau nggak di buku, bisa pakai aplikasi di smartphone kamu. Para penulis keren punya semacam buku kumpulan ide yang isinya ‘awut-awutan’. Tidak apa-apa karena ide ini masih mentah untuk diolah lagi. Yang penting, jangan sampai ide yang sudah susah-susah mampir ke pikiran itu lenyap begitu saja karena kita abai mencatatnya.

Pokoknya catat dulu semua ide tulisan yang terbetik dalam kepala. Tulis dulu, semuanya. Jangan dulu pikirkan bagus atau tidaknya. Nah, setelah ide-ide itu kamu amankan semuanya dalam bentuk catatan; langkah selanjutnya adalah menyortir ide-ide tersebut. Sama kayak si penghuni hati, yang juga kudu dipilih mana yang terbaik dan mana yang paling pas. Gitu. Gimana tips memilih ide yang bagus dan kurang bagus, Min? Cara terbaik adalah dengan melakukan riset. Penulis nggak boleh malas riset. Ide dan tulisan yang bagus saja belum cukup. Agar naskahmu tembus ke penerbit, tulisanmu jg kudu sesuai dengan yang dicari penerbit.

Tapi, jangan bayangkan riset ini macam para ilmuwan berkutat di laboratorium loh ya. Risetnya penulis itu beda, tapi sama-sama pentingnya. Pilih ide-ide tulisan yang sedang hits, sedang kekinian, sedang dicari penerbit. Caranya gimana? Jalan2 ke toko buku dan cek rak bestseller. Eh bisa juga cek toko buku online dan lihat-lihat daftar buku bestseller. Pokoknya kalau mau jadi penulis, jangan alergi sama toko buku dong. Bisa juga kepoin akun sosmed penerbitnya. Cari tahu buku-buku yang mereka terbitkan dan mereka butuhkan. Ini juga bisa untuk ide tulisanmu. Kunci pertama agar naskah diterima penerbit adalah menulis naskah yang baik. Kunci kedua, tulis naskah yang memang mereka butuhkan. Jadi, kalau ada penulis nangis kejer karena naskah novel dewasanya ditolak oleh penerbit buku anak, sudah tahu dong yang salah siapa? Beberapa redaksi penebit juga aktif di media sosial loh. Nah, kamu bisa colek-colek dan SKSD ke mereka gitu, nanya-nanya naskah yg dicari. Setelah ide didapat, dicatat, dan disortir, lalu dipilah dan dipilih; kita lanjutkan ke proses kedua yakni:

(2) PROSES MENULIS

Inti dari menjadi penulis adalah menulis itu sendiri. Tidak pernah ada penulis yang jadi penulis tapi tidak pernah menulis. Tapi, proses menulis seorang penulisnya tidak asal menulis loh ya. Agar naskahmu tembus seleksi penerbit, nulisnya juga pake langkah-langkah. Pertama kali sebelum menulis, akan lebih baik kalau kita membuat kerangka karangan (outline) dari naskah yang hendak kita tulis. Kenapa outline itu sangat penting? Karena outline bisa memandumu saat memulai, menyelesaikan, dan menyempurnakan tulisan. Gimana cara bikin outline/kerangka tulisan yang bagus? Silakan dibaca selengkapnya di blogdivapress.com.

β€œJika kau ingin menulis naskah yang bagus, terlebih dulu kau harus membuat outline atau kerangka tulisan yang bagus.” (Brad Zomick)

Saat proses menulis tengah berjalan, jangan sambil mengeditnya ya. Tulis saja dulu naskahnya sampai selesai, baru setelah itu diedit. Tulis dulu naskahmu sampai selesai, abaikan rasa gatal ingin menyunting atau memperbaiki susunan kalimat atau typo. Nanti ada waktunya kok. Naskah jelek tapi selesai ditulis masih bisa diperbaiki. Tapi kalau naskahnya nggak pernah selesai ditulis, yang mau diperbaiki apanya? Khusus untuk buku anak, perhatikan bahasa yang digunakan. Gunakan kalimat-kalimat yang pendek dan kata-kata sederhana. Kak Mentor menyarankan untuk membagi-bagi tulisan dalam bagian-bagian pendek sehingga akan terasa lebih mudah menyelesaikannya. Untuk penulis pemula, coba dulu menulis naskah-naskah yang sederhana tapi digarap dengan sempurna. Daripada naskah rumit tapi ngak selesai-selesai.

Jadi gini, kalau kamu berencana menulis naskah setebal 150 halaman, coba dicicil dan dipecah. Misalnya, seminggu selesai 20 halaman. Lebih baik mengarap naskah biasa-biasa saja dulu tapi bisa selesai daripada garap naskah rumit yang selesainya entah kapan, bikin frustrasi. Se-naskah demi se-naskah, garap satu-satu hingga selesai. Garap satu, selesaikan. Baru setelah itu pindah ke naskah/ide lain biar nggak bingung. Nanti setelah buku pertamamu terbit, yakin deh kamu akan semakin bersemangat untuk menulis naskah-naskah berikutnya. Percaya deh. Oh iya, jangan lupa senjata utama penulis adalah KAMUS dan BUKU. Penulis yang keren nggak alergi sama dua benda penting ini, catat ya. Setelah ide selesai dituliskan menjadi naskah utuh, saatnya dikirimkan ke penerbit. Eh tunggu dulu, masih ada langkah pamungkas, yakni

(3) Postwriting

Tahap ketiga ini sering juga disebut tahap swasunting alias selfediting, yakni ketika penulis mengedit sendiri naskahnya sebelum dikirimkan. Tentang swasunting dan postwriting ini sudah sering juga Mimin bahas di #RabuEditing atau bisa juga baca-baca di blogdivapress.com. Secara umum, yang perlu diperiksa ulang di tahap swasunting ini adalah

  • Penampilan naskah
  • Struktur bahasa
  • Logika bahasa
  • Hemat bahasa
  • Konsistensi

Terkait masing-masing poin untuk di cek ulang dalam tahapan swasunting ini, nanti akan kita bahas bareng lebih lanjut di #RabuEditing ya. Pada akhirnya, menjadi penulis adalah dengan menulis itu sendiri. Lakukan dengan rutin dan jadikan kebiasaan. Menulis yang baik tidak bisa instan, ada proses dan perjalanan di dalamnya. Dan semua yang tidak instan, hasilnya pun akan penuh kesan. Sekian untuk pekan ini, semoga bermanfaat dan semakin menyemangatimu dalam menyelesaikan menulis naskahmu.

You might also like

Comments are closed.