Yahded Haydar mendengar suara anjing menyalak. Lelaki tua yang tengah terkapar di atas lantai itu terkejut melihat sipir dan seekor anjing berdiri di depan pintu selnya. Gemetar tubuhnya. Ia mencoba bangkit dan menjauh dari tatapan mata si anjing liar.
“Kau…, kumohon jangan kau lakukan itu padaku. Aku masih ingin tetap hidup. Kumohon…,” rintihnya. Sebuah pengharapan yang sia-sia.
Malam itu berakhir dengan cara mengenaskan.
***
Gadis itu terbangun dari mati suri. Jasadnya hampir-hampir diturunkan ke liang lahat. Jabaliyah dibuat gempar akan kejadian itu. Namun, tidak seorang pun mampu melawan kehendak-Nya jika Dia menginginkannya begitu.
Gadis itu tiba-tiba membelalakkan mata lebar-lebar, lalu mendesah lirih, “Ayah…, Ayah…, Ayah….”
Yanaan mendekatkan telinga ke bibir gadis itu. Terdengar bisikan.
“Aku…, melihat ayahku mati dibantai anjing liar!”
***
Tidak seorang pun pernah membayangkan hidup dalam desing peluru dan dentuman bom. Namun, inilah hidup Palestine. Inilah kisah dari Jalur Gaza,  wilayah perang antara Israel dan Palestina….
Benar-benar sebuah novel yang bakal menggedor-gedor pintu nurani kita. Sebuah novel miris dengan balutan kisah yang penuh haru-biru, lanjutan novel getir sebelumnya, Gadis Kecil di Tepi Gaza .
Selamat membaca!

Wajah cantik nan lugu tapi penuh dendam,
Tersembunyi di balik relung-relung jiwa,
Batin yang menangis tanpa henti,
Berdiri engkau di atas Bukit Jabaliyah,
Berkesumat, melaknat, dan mencaci umat Tuhan
yang demikian kejam…

“Novel ini membuat saya menangis…” K.H.D. Zawawi Imron, kiai, sastrawan senior, di Madura.

“Huffgh, nggak kebayang hidup di Tepi Gaza, nggak kebayang betapa kejinya laskar Israel itu…” Edi Mulyono, penulis Andai Aku Jalan Kaki Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku?