My Unlucky Holiday by Clara Agustin Stephani

Peristiwa ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu , tepatnya ketika libur semester akhir atau biasa dikenal libur kenaikan kelas. Waktu itu , aku masih duduk di bangku sma kelas dua. Setelah melalui perdebatan yang cukup lama, akhirnya aku dan kedua sepupuku, Noneke dan Sella sepakat untuk berlibur ke kota Yogyakarta. Tempat ini dipilih karena selain lokasinya yang lumayan dekat dengan kota tempat tinggalku, juga karena Yogyakarta terkenal dengan wisatanya baik itu wisata alam ataupun wisata kuliner. Kami memutuskan untuk menggunakan mobil pribadi karena angkutan umum yang meliputi kereta api dan bis telah penuh sesak oleh penumpang.

Esoknya kami harus tergesa-gesa berangkat karena bangun kesiangan. Rupanya, karena terlalu semangat dalam membahas rencana liburan, membuat kami lupa waktu dan akhirnya malah tidur larut malam. Sepanjang perjalanan mbak non, sebutanku untuk Noneke, tak henti-hentinya mengeluh tentang keadaan jalanan waktu itu. Perjalanan yang normalnya ditempuh dalam waktu 4 jam malah menjadi 7 jam yang disebabkan oleh hiruk pikuk jalanan. Aku maklum karena memang waktu itu musim liburan sekolah.

Setibanya di Yogyakarta, kami segera menuju candi Prambanan yang telah tersohor keindahannya. Kami bertiga berfoto ria menggunakan kamera mbak non dengan gaya-gaya yang paling narsis. Walaupun saat itu, cuaca cukup terik tapi tak menyurutkan semangat kami untuk mengeksplorasi candi itu habis-habisan.

Setelah puas dengan eksplorasi kami, kami berencana untuk melanjutkan perjalanan ke Marlboro. Sepanjang perjalanan, kami bertiga tak berhenti mengoceh tentang barang-barang apa yang akan kami beli. Sella paling semangat karena memang ia yang paling doyan belanja. Setibanya di Marlboro, kami langsung berpencar untuk mencari barang-barang yang kami inginkan. Aku berulang kali keluar masuk toko tetapi masih belum juga menemukan aksesoris yang menarik. Aku juga sempat berhenti di beberapa warung makan saking lelah dan laparnya berjalan-jalan.

Pencarianku cukup lama. Tak terasa hari telah berganti malam. Di saat aku masuk ke salah satu toko aksesoris, aku melihat kalung dengan liontin yang sangat cantik. Aku pun memutuskan untuk membeli barang tersebut. Tetapi, ketika tiba di kasir, aku tak menemukan dompetku di saku celana. Wajahku memucat seketika. Aku panik. Semua uangku, ktp, sim, kartu atm berada dalam dompet itu. Rasanya ingin menangis ketika mendapati kenyataan seperti itu.

Aku pun berinisiatif untuk menelepon kedua sepupuku. Lagi-lagi kenyataan pahit yang harus kualami. Handphone yang kutaruh di saku belakang celanaku juga raib. Aku lemas. Aku segera keluar dari toko tersebut dan bergegas mencari kedua sepupuku. Tetapi, sampai kakiku lemas aku masih tak dapat menemukan mereka. Kesal, marah, kecewa bercampur menjadi satu di dalam hatiku. Sesak. Akhirnya, kuputuskan untuk menunggu mereka di parkiran mobil. Aku sudah tak bersemangat belanja karena kejadian itu.

Di tengah perjalananku menuju parkiran, ada seseorang yang seperti memanggilku. Kutolehkan kepalaku dan mendapati seorang pria berkuning langsat dan bermata sipit sedang melambai-lambaikan tangannya. Pria itu menghampiriku dan mengucapkan beberapa patah kata bahasa jepang. Aku hanya memasang tampang bingung karena aku hanya mengerti sedikit tentang bahasa jepang. Pria itu menyerahkan kameranya padaku. Aku hanya diam memandanginya. Lalu pria itu berpose dengan seorang wanita seperti istrinya. Oh, ternyata pria itu memintaku untuk mengambil foto dirinya dengan istrinya itu. Dengan setengah mengeluh, aku pun menuruti keinginannya. Setelahnya, pria itu mengucapkan kata-kata lagi. Aku hanya tesenyum kaku karena tidak mengerti apa pun. Aaargh, ingin rasanya segera pergi dari hadapan pria jepang itu.

Aku pun nekat. Dengan mengucapkan bahasa inggris, aku berlari menuju tempat parkir. Aku harus menunggu sepupuku selama satu jam dengan berdiri. Kondisiku waktu itu sungguh mengerikan. Dengan mata sembab, rambut acak-acakan, dan kaki yang sangat pegal membuatku ingin segera pulang ke rumah. Akhirnya kedua sepupuku datang menghampiriku. Mereka bingung dengan kondisiku yang seperti itu sekaligus merasa penasaran karena mereka tidak dapat menghubungiku sejak tadi.

Di dalam mobil, aku pun menceritakan kejadian yang baru saja aku alami. Bukannya merasa kasihan, mereka berdua malah tertawa terbahak-bahak dan malah mengejek diriku. Aku kesal dan memilih untuk diam. Tiba-tiba, duar, aku mendengar ada suara letusan. Kami bertiga saling berpandangan dan langsung keluar dari mobil. Kami lemas. Ternyata, ban mobil kami kempes.

Kami bertiga berdebat siapa yang akan mendorong mobil tersebut. Akhirnya diputuskan bahwa aku dan Sella yang mendorong mobil karena memang kami berdua belum bisa mengendarai mobil. Aku dan Sella sudah terengah-engah tetapi belum ada bengkel mobil yang tampak. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk beristirahat sebentar di depan sebuah hotel. Mbak Non menyarankan untuk menginap di hotel saja karena memang sudah malam dan mobil kami masih mengalami gangguan. Aku dan Sella setuju saja karena kondisi kami yang sudah lemas.

Kami pun memasuki lobi hotel itu dan menuju ke tempat resepsionis. Lagi-lagi aku harus mengalami nasib sial karena kamar hotel tersebut penuh. Aku sudah tak mapu berkata-kata lagi dan hanya mengikuti ke mana kedua sepupuku itu melangkah. Ternyata, mereka kembali ke mobil. Mbak Non memberi saran untuk tidur saja di mobil sambil menunggu hari esok. Sella langsung menyetujui ide itu sedangkan aku hanya diam saja. Pasrah. Akhirnya diputuskan bahwa malam itu kami bertiga tidur di dalam mobil.

Esoknya, aku dan Sella kembali mendorong mobil untuk mencari bengkel. Setelah ketemu, kami bertiga menitipkan mobil kami sedangkan kami sendiri mencari musholla terdekat untuk mandi. Setelah mobil kami beres, kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Madiun. Sungguh, liburan yang tak akan pernah kulupakan karena liburan itu adalah liburan tersial yang pernah aku alami.

Nama : Clara Agustin Stephani

TTL : Madiun, 5 Agustus 1993

Alamat : Jalan Sedoro 18 RT 4 RW 1 Banjarejo Madiun

Telepon : 085646846585

Pendidikan : Institut Teknologi Sepuluh November

e-mail : clarasykes@ymail.com

Share

Leave a Reply