10 Syarat Utama Jika Kamu Mau Jadi Seorang Editor Buku

10 Syarat Utama Jika Kamu Mau Jadi Seorang Editor Buku
Jika Kamu Mau Jadi Seorang Editor. Sumber gambar: pixabay

Halo, halo. Adakah di antara DIVAmate yang kepingin jadi editor buku di penerbit? Serius pengen jadi editor di penerbit? Banyak syaratnya loh, banyak susahnya juga, tapi senengnya lebih banyak. Suer :)) Bisa megang buku tiap hari. Bisa jadi pembaca pertama. Dan, kebahagiaan ketika buku hasil suntingannya selesai dicetak. Ah, itu indah. Bagi banyak orang, menjadi editor adalah posisi yang prestisius, mengagumkan, menyenangkan, dan hebat. Benarkah?

Perlu diketahui, sebagaimana jenis-jenis pekerjaan lain, menjadi editor buku juga ada susah dan senangnya. Bukankah hidup juga begitu? Bagi banyak orang, menjadi editor adalah posisi yang prestisius, mengagumkan, menyenangkan, dan hebat. Benarkah? Dikejar tenggat waktu (DL), menghadapi penulis yang rewel, musti merombak naskah, bantuin nerjemahin ulang, kudu lembur karena masuk jadwal. Percaya deh, menghadapi typo atau salah ketik itu belum ada apa-apanya. Kerjaan seorang editor kadang jauh lebih pelik dari itu.

Tapi, segala kesulitan itu akan langsung menghilang ketika seorang editor melihat karya suntingannya akhirnya terbit. Rasanya plung eh plong. Kamu yakin masih ingin jadi editor di penerbit? Kalau gitu, kamu kudu tahu apa saja syarat-syarat menjadi seorang editor.

Pamusuk Erneste dalam buku legendarisnya “Buku Pintar Penyuntingan Naskah” menyebut ada beberapa syarat dasar untuk menjadi editor buku andal. Kalau kamu kepingin bener jadi editor, kamu kudu punya atau wajib baca buku beliau ini. Tidak semua orang bisa lolos menjadi editor. Ada sejumlah syarat dasar yang harus dipenuhi. Mari kita bahas satu-satu biar kamu nggak kaget.

(1) Menguasai kaidah ejaan bahasa Indonesia yang baku. Paham EYD atau mau/bersedia mempelajarinya

Menguasai kaidah-kaidah EYD bahasa Indonesia adalah syarat mutlak bagi kamu yg ingin jadi editor. Bahkan, untuk editor teenlit sekalipun. Misalnya saja: paham penggunaan tanda baca (titik, titik koma, tanda seru, dll), pemenggalan kata (disana atau di sana), dan ejaan. Mengapa keterampilan ini penting? Karena seorang editor akan berhadapan dengan tulisan yg harus diperbaikinya sesuai tatanan kebahasaan. Sulit? Enggak juga. Asal mau belajar pasti bisa. Kamu bisa beli buku EYD yang banyak beredar di pasaran. Boleh juga beli buku EYD ini di mbak Nita loh (sms 0818 04374 4879) *numpang iklan.

Lanjut ke syarat (2) yakni Menguasai Tata bahasa Indonesia yang baik dan benar

Susah juga? Susah juga sih kalau kamu nggak mau belajar. Gampang? Ya nggak boleh gampangin juga sih. Pokoknya kudu belajar. Coba buka-buka lagi buku pelajaran bahasa Indonesia kamu. Atau, baca-baca buku tentang teknik kepenulisan. Intinya adalah mau belajar. Banyakin juga baca-baca surat kabar nasional, majalah-majalah, atau situs pusat bahasa. Banyak baca, banyak tahu. Selalu pegang teguh ungkapan ini. Seorang editor harus tahu apakah sebuah kalimat sudah benar dari segi subjek predikat, apakah itu kalimat atau frasa atau klausa.

Bentuk-bentuk kalimat yang baku, kesalahkaprahan dalam berbahasa, pilihan kata yang sesuai, dan masih banyak lagi. Editor harus paham itu. Di antaranya, ada 10 salah kaprah dalam berbahasa. Mungkin kamu sudah baca ini.

Keliru: Sesuai buku.
Benar: Sesuai dengan buku.

Keliru: SD ini terdiri 6 kelas
Benar: SD ini terdiri atas 6 kelas.

Keliru: Ani suka makan apel. Sedangkan Andi suka makan jeruk.
Benar: Ani suka makan apel, sedangkan Andi suka makan jeruk.

Keliru: Mincob tidak mengenakan bedak. Sehingga ia harus dihukum.
Benar: Mincob tidak mengenakan bedak sehingga ia harus dihukum.
*nggak ada contoh yang lain ya, Min?

(3) Tidak alergi dengan kamus (dan buku-buku tebal lainnya semacam thesaurus dan buku almanak)

Kalau baca novel tebel saja kamu nggak kuat, mungkin kamu harus mempertimbangkan ulang keinginanmu jadi editor. Sehari-hari, editor harus berkawan akrab dengan kamus, tesaurus, dan berbagai buku referensi. Jadi, jangan alergi sama buku tebal. Editor juga tidak boleh malas buka kamus. Kalau ragu apakah ‘praktek’ atau ‘praktik’, dia harus cek KBBI dulu. Jangan menerka-nerka.

Tidak hanya Kamus Besar Bahasa Indonesia, editor juga harus mau membuka kamus istilah, leksikon, ensiklopedia, dan kamus2 lainnya. Jika sekarang saja kamu malas buka kamus Inggris – Indonesia, gimana mau jadi editor? Bisa-bisa seminggu langsung kena darah tinggi. Jadi Admin @divapress01 aja yuk, lebih enak hihihihi.

(4) Memiliki kepekaan bahasa, kepekaan ini hanya bisa diperoleh dengan jam baca yang tinggi dengan bacaan yang bervariasi

Ternyata, bukan hanya dalam masalah hati saja kita kudu peka. Seorang editor juga harus peka dalam hal berbahasa. Peka berbahasa itu semacam makanan apa sih Min? | Entahlah, Lee Min Ho KW 6 ini juga nggak mudeng

Peka berbahasa misalnya tahu bahwa suatu kalimat terasa ‘kasar’ sehingga harus dihindari. Tahu bahwa suatu kata tabu dan harus dihindari, dll. Editor juga harus peka ketika menemukan suatu kalimat yg bisa memancing kontroversi, atau kalimat yang maknanya keliru.

A: Ayahnya adalah merupakan seorang politikus.
B: Ayahnya adalah seorang politikus.
Kalimat mana yang benar?

Min, gimana cara mengasah kepekaan bahasa? | Ya kamu kudu sering dengerin curhatnya. Komunikasi diperbanyak.| Woy, peka bahasa bukan peka hati! | #ehmalu

Menurut Pak Pamusuk Erneste, kepekaan berbahasa dapat dilatih dengan banyak membaca. Yup, editor kudu mau membaca, hukumnya wajib! Follow juga akun-akun kebahasaan agar pengetahuan kita tentang bahasa Indonesia bisa selalu diperbarui. Syarat utama untuk memiliki kepekaan berbahasa ini adalah BANYAK MEMBACA, tidak bisa tidak. Bisa dibilang, membaca adalah hobi kedua seorang editor. Hobi nomor satunya? Mengejar cinta dong #eaaakkkk

Baca apa Min? Komik boleh? | Boleh, tp imbangi juga dengan baca tulisan-tulisan bermutu kayak kolom bahasa di surat kabar. | Ow gitu, sukanya saya baca kolom iklan sih | *jejelin naskah

Peka berbahasa juga berarti mampu mengunakan kata yang tepat sesuai konteks. Beda kan percakapan antar-remaja dengan ala orang tua? Menurut kalian, kalimat berikut ini sudah sesuai konteks belum?

Sis, ntar sore gue mau beranjangsana ke rumah lu, boleh kan?

(5) Editor buku yang mumpuni juga kudu memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas

Gimana biar punya wawasan luas? Ya banyakin baca buku, surat kabar, majalah, dan situs bermutu. Jangan baca timeline melulu sih. Editor harus selalu berusaha memperbarui informasi, tidak alergi nonton/baca berita, dan mencoba selalu tahu peristiwa besar terbaru. Bukan cuma up date Cita C***** dan Kr**** M**** saja. Sekali lagi, jika kamu malas membaca, kamu harus pertimbangkan ulang keinginanmu untuk menjadi editor. Jadi Mimin aja deh, asyik loh. Tapi nggak sekeren jadi editor tentunya.

(6) Memiliki sikap teliti dan sabar, baik dalam menghadapi naskah yang susah maupun penulis yang rewel

Dalam kesehariannya, editor harus menghadapi berbagai macam naskah, mulai dari yang standar sampai yang bener… bener-bener hancur, gitu. Menulis ulang, menerjemahkan ulang, mengecek referensi, hingga mengembalikan naskah ke penulis adalah hal biasa bagi editor. Tiga dari lima editor diketahui rentan terkena darah tinggi. Sementara yang dua lagi, mereka kena gejala imlak (imut-imut gilak) wkwkwk.

Kalian tidak bisa membayangkan apa yang harus dihadapi oleh kaum editor di balik terbitnya sebuah buku. Luar biasa perjuangan mereka. Bukan hanya sekali-dua kali, mereka kadang harus membaca satu naskah yang sama minimal tiga kali. Editor mah orangnya gitu. Belum lagi kalau ada data yang keliru, ujung-ujungnya editor juga yang kudu periksa-silang dengan sumber-sumber referensi lain. Luar biasa sesungguhnya peran seorang editor di balik suksesnya sebuah buku, tapi nama mereka jarang sekali disebut. Kami mah apa atuh!
Cek tanggal/tempat/peristiwa penting, nama depan dan belakang tokoh penting, sampai fakta-fakta juga kudu benar, jgn menyesatkan pembaca.

Sesungguhnya, tanggung jawab editor itu teramat berat (seberat BB-nya #eh), tapi keberadaan mereka sering sekali terabaikan. Woy, para penulis. Sudahkah kalian menyebut nama editor kalian dalam halaman persembahan? Sudahkan kalian berterima kasih kepada mereka? Teliti agar tidak ada salah ketik, agar naskah tidak menyinggung SARA, agar tidak berbau pornografi, dan sebagainya. Editor ini loh. Bolak-balik memeriksa naskah yang sama, itu mah sudah biasa buat para editor. Beberapa editor bahkan harus membaca ulang hasil cetakan, terutama ketika buku yang hendak diterbitkan adalah buku terkenal. Dengan segala perjuangannya itu, editor masih harus bersabar ketika namanya seolah menghilang saat buku suntingannya laris manis.

Maka, benarlah kata Stephen King bahwa: “Menulis itu pekerjaan manusia, sementara menyunting adalah pekerjaan dewa.”

(7) Peka terhadap hal-hal yang bermuatan SARA, Pornografi, dan lain-lain yang dapat mengancam keamanan dan kestabilan

Sebuah tulisan bisa menjadi setajam pedang. Buku dapat memicu revolusi, karena itulah dibutuhkan kebijaksanaan seorang editor buku. Sampai sejauh itu dia harus memikirkan, apakah naskah A tidak menyulut kerusuhan atau menimbulkan gejolak, apakah dan apakah yang lain. Masih ingat kan kasus pembakaran buku yang terpaksa dilakukan sebuah penerbit besar di Indonesia? Tuh, buku bisa sedahsyat itu dampaknya. Inilah sebabnya kenapa editor harus peka, berwawasan luas, dan selalu memperbarui informasi.

(8) Selain peka, seorang editor buku juga harus bisa bersikap luwes. Pinter nari gitu, Min? Ya nggak luwes-luwes gitu kali yee

Luwes saat berhadapan dengan naskah, saat berhubungan dengan penulis, saat bertindak sebagai duta/wakil penerbit. Jangan sampai, karena naskah yang digarapnya adalah naskah hancur, kemudian dia ikut-ikutan kena darah tinggi. Sabar, sabar ya, Tor. Hihihi. Editor harus bersedia menerima masukan dan kritik dari penulis, juga pembaca. Editor adalah penengah di antara penulis dan pembaca.

(9) Editor buku harus memiliki kemampuan menulis. Kalau pun belum bisa menghasilkan karya, paling tidak dia bisa menulis yg baik dan benar

Seorang editor buku tidak bisa lepas dari dunia tulis-menulis. Menulis ibarat pekerjaan ketiganya setelah menyunting dan membaca. Dalam banyak hal, seorang editor mau tidak mau akan menghadapi pekerjaan menulis, mulai dari menulis email hingga tulisan di sampul belakang. Seorang editor tidak harus seorang penulis, tapi dia harus bisa menulis yang baik dan benar.

(10) Seorang editor buku sebaiknya menguasai bidang tertentu plus (paling tidak) satu bahasa asing, meskipun pasif

Maksudnya begini: lulusan sastra bisa jadi editor buku fiksi, lulusan MIPA bisa jadi editor buku-buku pengetahuan, lulusan bahasa jadi editor bahasa. Penguasaan bahasa asing (terutama bahasa Inggris pasif) juga mutlak karena banyak referensi sering kali hanya dituliskan dalam bahasa ini. Akan lebih baik lagi jika editor juga menguasai bahasa asing lain selain Inggris, tapi ini tidak wajib.

Masih ada banyak hal lagi yang harus dipenuhi oleh seorang calon editor buku yang kece. Tapi, sepuluh dulu ya, biar kamu nggak makin grogi. Jadi, kesimpulannya, susahkah menjadi seorang editor? Sebenernya memang agak susah, tapi bukannya mustahil. Mereka yang mau terus belajar pasti bisa! Kalau dipikir, semua pekerjaan itu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Semoga. dengan menyimak bahasan hari ini, kita bisa lebih menghargai jasa para editor buku. Di balik sebuah karya hebat, ada editor hebat yang bekerja di balik keheningan, tak tampak tapi terasa sumbangsihnya. Salam hormat dari kami untuk segenap editor di mana saja berada, di penerbit apapun.

3 thoughts on “10 Syarat Utama Jika Kamu Mau Jadi Seorang Editor Buku

  1. Kalau proofreader gimana, harus memenuhi syarat-syarat itu juga ya?
    Eh, ngomong-ngomong ada lowongan buat jadi proofreader nggak nih di divapress? Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *